Buka Bersama: Sudut Pandang Abidin, bagian 8

Penjualan barang elektronikku lumayan selama bulan puasa ini, makanya aku tak terlalu memikirkan harus memberi hadiah tablet ke temanku. Anggaplah sedekah. Anak istriku juga sudah menerima THR dari hasil penjualan, sudah tenang pikiranku. Beginilah memang nasib wirausaha, banyak yang harus dipikirkan sebelum bisa tidur nyenyak di malam hari. Risiko, tapi sudah kuambil jadi jalan hidupku, sekarang tinggal ikhtiar dan doa.

Dari tadi, istriku mengirimkan pesan di Whatsapp, dia juga sebenarnya sedang buka bersama bersama teman-teman SMP-nya. Anak kami dibawa olehnya, maklum, kebanyakan juga sudah membawa anak, jadi mereka bisa main bersama. Lagian lebaran besok kami tidak mudik karena kehabisan tiket, alhasil anak kami tak bisa bertemu saudara sebayanya di kampung.

Pegawai-pegawaiku juga sudah diliburkan, tersisa hanya aku di toko, kadang ditemani istri dan anakku. Pelanggan pun sudah mulai menyepi, sudah kembali ke kampung halaman sepertinya. Mulai besok, toko akan kututup, sampai H+2 lebaran, fokusku akan diberikan pada keluarga, mungkin akan kubawa mereka ke taman bermain di pusat Kota Bandung.

“Giliranku yah,” ujarku sambil membaca gulungan kertas, “wah, Yarsi nih, hadiah buatku apa?”

Yarsi sedikit erkejut saat kupanggil namanya, tapi dia sigap mengeluarkan kotak dari kantung keresek.

“Pas nih, Din, hadiahku cocok buat tokomu, silahkan dibuka,” ujar Yarsi. Kubuka bungkusan tersebut, ternyata sebuah lampu emergensi. Benar tebakan Yarsi, tokoku memang belum punya lampu semacam ini, kadang jika mati lampu, harus bergantung pada senter atau lilin.

“Kata yang jual, isi baterenya dulu selama 4 jam, lalu bisa dipakai saat emergensi sampai 6 jam,” ujar Yarsi lagi. Bentuk lampu emergensinya standar, tapi daya nyalanya cukup untuk menerangi tokoku yang tidak terlalu besar. “Garansi toko seminggu yah, kalau rusak bisa dibawa ke yang jual lagi, tapi kalau lebih seminggu, bawa ke Kosambi, ada garansi setahun.”

“Wah, pacarmu memang jago jualan yah, aku sekarang jadi ingin beli lampu ini juga untuk emergensi di rumah,” ujarku sambil melihat Kiki. Ucapanku itu hanya dibalas oleh senyuman Kiki, dia nampak tegang, entah mengapa, mungkin dia tak senang dengan hadiah tabletku, tapi masa iya?

Aku abaikan senyum kosong Riki, lalu berujar, “terima kasih ya, Yarsi, semoga bermanfaat, sekarang giliran Rosikin untuk pilih kado.”

#cerpenramadhan #crhari23