Buka Bersama: Sudut Pandang Apong, bagian 5

Dari raut muka Dahlia, dapat dilihat bahwa dia sepertinya tidak terlalu suka dengan hadiahku.

“Maafkan aku, Dahlia, aku tidak punya banyak waktu untuk mencari hadiah, tadi aku hanya melihat intranet, ada promo voucher untuk menonton di bioskop sebanyak 10 kali, tanpa pikir panjang aku langsung membeli voucher tersebut,” ujarku dalam hati.

Tampak yang lain juga merasakan kesedihan Dahlia, “aduh aku jadi merasa tidak enak, sudah lupakan dulu, sekarang saatnya giliranku untuk mengambil kertas.”

Pekerjaanku sebagai supervisor di sebuah bioskop kadang tak memberikan ruang bagiku untuk bernapas. Penonton yang silih berganti, film yang tak henti diputar, dan antrean yang selalu terlihat membuatku harus siaga mengawasi bawahanku. Aku ikut mengurusi jika ada lampu yang mati, layar studio yang kotor, sampai proyektor yang macet. Walau pekerjaanku hanya menjadi manusia tengah, sudah barang tentu koordinasi membutuhkan waktu dan tenaga.

Mangkuk sudah berada di depanku. Aku kocok agak lama kertas-kertas di dalam mangkuk tersebut, tidak tahu alasannya apa, aku hanya mengulur waktu. Aku ambil satu gulungan kertas, terbuka nama yang tertera di dalam kertas itu, Iis. “Wah, Is, aku dapat kadomu,” ujarku disambut nada kecewa, namun manja dari yang lain. Aku hanya tertawa, walau sudut mataku menatap Dahlia yang masih terdiam.

“Oh tidak, semua orang tahu jika Iis membawa kado yang paling besar, sedangkan aku membawa kartu yang paling tipis, apa kata dunia?”

Iis yang duduk di sebelah Dahlia kemudian menyerahkan kado berukuran besar tersebut kepadaku, cukup berat, aku berpikir apa ya isinya? Aku coba buka selotip yang menempel pada kertas kado, perlahan aku melihat bentuk barang yang ada di dalam kado tersebut, ternyata seperangkat Tupperware, oh pantas saja karena memang Iis adalah distributor level atas untuk urusan seperti ini.

Sudah sejak lama Iis mengirimkan katalog Tupperware ke email pribadiku. Tak pernah kubeli, memang aku tak punya daya keinginan untuk membeli barang-barang semacam itu, masih belum butuh. Memang sudah rejeki jika harus menerima barang seperti ini.

“Terima kasih, Is, semoga berguna ya!” ujarku pada Iis.

Aku kemudian menyerahkan mangkuk itu kepada Narto, “ini sekarang giliranmu untuk memilih hadiahnya,” Narto pun kemudian mengambil mangkuk dan mengocok gulungan kertas. Mataku masih saja melihat Dahlia, “aduh, aku tidak enak nih jadinya, tapi mau gimana ya?” Pikiranku kalut sampai akhirnya Narto berteriak, “hai Dahlia, aku mendapatkan hadiahmu!”

#cerpenramadhan #crhari20