Buka Bersama: Sudut Pandang Dahlia, bagian 4

Aku sebenarnya ingin duduk di sebelah Kartini, ingin mengobrol banyak, namun aku tadi datang terlambat dari Jakarta karena macet. Posisi sebelah Kartini sudah ditempati oleh Cici dan Iis, apa boleh buat, aku akhirnya duduk diantara Iis dan Yarsi. Pekerjaanku dengan Kartini memang mirip, bergerak di bidang seni. Kartini yang lebih sibuk di urusan tenun, sedangkan diriku suka melukis. Kebanyakan lukisanku adalah lukisan kontemporer. Sejak lulus kuliah, aku mengambil kursus singkat melukis di sebuah sanggar seni di Jogjakarta, sekembalinya ke Jakarta, aku bersama teman-teman membuat sebuah galeri kecil di kawasan Kemang.

Ketika mendengar bahwa akan ada buka bersama di Bandung, aku bingung harus membawa kado apa, kegiatanku tidak terlalu banyak, namun cukup menyita waktu, butuh konsentrasi untuk menyelesaikan satu lukisan. Sampai hari kemarin pun aku tidak tahu harus membawa apa, sampai akhirnya aku memutuskan untuk membawa sebuah lukisan. Aku bungkus rapi dengan kertas coklat dan akan kujadikan menjadi hadiah bagi salah satu temanku.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk membawa lukisan berukuran 1 x 1 meter itu dari Jakarta ke Bandung. Saat di travel, aku bersitegang dengan petugas di loket, petugas bersikeras bahwa lukisan tersebut harus membayar biaya kirim, padahal aku berpikir jika aku yang membawa lukisan tersebut bisa dianggap sebagai bagasi. Petugas tetap bersikeras bahwa ukuran dari lukisan tersebut melewati batas standar yang ditentukan oleh kebijakan perusahaan. Aku pun mengalah dan membayar biaya, setengah dari ongkos perjalanan ke Bandung.

Drama belum berakhir, ketika sampai di Bandung, justru cobaan menjadi lebih besar karena taksi konvensional sepertinya tidak bisa memuat lukisan. Akhirnya saya harus menyewa sebuah ojek online dan menenteng lukisan tersebut dari travel ke tempat buka puasa bersama.

Penjaga keamanan pun sempat kebingungan ketika melihatku menenteng benda berukuran besar, dia sempat bertanya, kujawab seadanya, dia mengangguk, mengizinkanku untuk membawa lukisan itu ke dalam lokasi.

Tentu dengan usahaku membawa lukisan tersebut dari Jakarta, aku akan mendapatkan hal yang sepadan, ya mungkin saja benda yang dibawa Iis akan jatuh ke tanganku

Kuambil secarik kertas dalam mangkuk, kubuka gulungannya, dan kulihat nama Apong.

“Apa, aku dapat namamu, Pong, kamu bawa hadiah apa?”, ucapku ke Apong, dia lalu mengambil sebuah amplop dari tas mungil.

“Ini Dahlia, ini hadiahku,” ucap Apong, aku mengernyitkan dahi, hadiah apa yang ada di dalam amplop tersebut? Uang tunai kah? Kubuka amplop tersebut, ternyata isinya adalah voucher untuk menonton film sebanyak 10 kali. Aku terdiam sampai aku tersenyum lemas, perjuanganku membawa lukisan besar ke Bandung dibayar dengan 10 voucher untuk nonton di bioskop.

#cerpenramadhan #crhari19