Buka Bersama: Sudut Pandang Iis, bagian 3

Aku sebenarnya salah satu inisiator buka bersama, bersama Cici, kami adalah teman sejawat di kantor. Entah mengapa, sejak kuliah, diriku selalu bersinggungan dengan makhluk bernama Cici. Usai menamatkan kuliah, kami mendaftar pada perusahaan telekomunikasi lokal, kami berdua gagal, lalu sempat berpisah ke lain kota karena diriku harus kembali ke Bogor menemani ibuku yang sedang sakit-sakitan.

Tak berapa lama kemudian, diriku mendaftar kerja ke sebuah bank. Mungkin sudah rezeki, diriku lolos dan ditempatkan di Bandung, bersama Cici. Iya, Cici juga ternyata mendaftar di bank yang sama, namun lokasi seleksi kita berbeda, walau akhirnya ditempatkan di lokasi kerja yang sama. Karirku dengan Cici juga sepertinya tidak berbeda jauh; kami sempat dipromosikan ke sebuah posisi yang sama, walau akhirnya teman kami lah yang mendapat posisi tersebut.

Beberapa tahun belakangan, kami berdua sering berpetualang ke kota lain, kadang karena alasan bisnis, kadang pula karena memang kami ingin melepas penat dari kegiatan kantor sehari-hari. Kami pun saling mendukung kegiatan di luar pekerjaan, seperti misalnya Cici yang kini membantu ibunya dengan bisnis kecil membuat kue lebaran. Walau skalanya masih kecil, usaha ibunya Cici cukup menjanjikan, seminggu sebelum lebaran saja pesanannya sudah melebihi kapasitas sampai harus menutup orderan.

Cici sering memanggilku ke rumahnya, memaksaku menjadi pembuat kue sampai tengah malam. Aku sih mau-mau saja karena biasanya langsung dihadiahi beberapa toples kue, macam kastengel, nastar, dan putri salju, bahkan sepertinya aku tidak perlu lagi membeli kue untuk lebaran besok.

Sejujurnya dari tadi aku sedang melirik Iis, dirinya seperti yang membawa kado yang cukup besar, aku perkirakan semacam peralatan dapur. Entahlah, kado itu terbungkus oleh kertas berwarna batik.

Kulirik kertas yang diambil dari dalam mangkok, kubuka gulungannya, kulihat ama Cici. Oh tidak, jangan lagi Cici karena aku tahu apa isi kadonya; beberapa toples kue lebaran!

Lengkap sudah, lebaran kali ini sudah pasti tak perlu lagi membeli kue lebaran.

“Ini benar-benar aneh, kenapa aku ambil namamu, Ci, sudah tahu kan kalauisinya kue lebaran,” ucapku disambut tawa satu meja.

“Kue lebaran yang kemarin juga sempat dihabiskan, tapi tak apa-apa, terima kasih telah menghemat pengeluaran untuk lebaran kali ini, tidak perlu beli kue, nanti kalau misal kalian mau ke rumahku, silahkan datang membawa handai taulan, tumpukan toples kuenya pasti cukup untuk beberapa hari,” tawa di meja semakin keras. Tak terasa sudah azan isya. Kami sejenak berhenti, menunggu azan selesai di pengeras suara masjid sebelah.

Kusodorkan kemudian mangkok itu ke Dahlia, “Lia, giliranmu!”

#cerpenramadhan #crhari18