Buka Bersama: Sudut Pandang Kiki, bagian 7

Aku masih tertegun mendengar pernyataan Dahlia soal lukisan tersebut. Aku memang bukan pecinta lukisan, tapi deskripsinya tentang lukisan tersebut memberikan semangat segar untuk kejutanku malam ini. Aku sengaja duduk jauh dari Yarsi, kekasihku sejak kuliah. Malam ini, jika semua sesuai rencana, akan kulamar dia di depan teman-teman kami.

Yarsi sepertinya memang tak ingin diburu menikah, karirnya sedang prima, kadang tak ada waktu bagi kami berdua untuk memupuk cinta. Pertimbangan utamaku adalah usia, aku tak mau anakku lahir di saat usiaku tua.

Yarsi sudah menjadi pelengkap hidupku selama ini. Aku yang pendiam diimbangi oleh dirinya yang aktif berbicara. Aku yang penyabar mengimbangi dirinya yang kadang emosional. Dia yang penakut, diimbangi oleh diriku yang sedikit berani.

Keluargaku sudah bertemu keluarga Yarsi, mereka nampaknya setuju-setuju saja. Semuanya sudah mendukung kami, yang menghalangiku hanya perasaanku. Keyakinanku akan kemampuanku. Juga ketakutanku akan kemampuanku. Malam ini semoga semuanya menjadi titik balik, sama seperti wangi hujan pertama kali.

“Aku ambil ya,” ujarku sambil mengambil sebuah gulungan kertas, kulihat nama yang tertera adalah Abidin. Dia merupakan anggota geng yang paling cepat menikah, usahanya sebagai penjual barang elektronik pun lancar. Dia pun menjadi konsultan barang elektronik bagi kami yang gagap teknologi.

Abidin mengeluarkan sebungkus kado, aku buka perlahan, ternyata sebuah tablet. Seisi meja menjadi riuh dan saling mengutarakan ejekannya pada diriku. Aku hanya tertawa. Memang itu hanya tablet murah, tapi fungsinya lumayan juga.

“Kamu bisa menonton TV di situ, ada antenanya,” ujar Abidin disambut kekaguman seisi meja. Beginilah jika sekumpulan gagap teknologi dihadapkan pada teknologi baru. “Sudah 4G loh ini, bisa buat ngetik jika memang buru-buru, baterenya lumayan untuk satu hari tanpa listrik.”

Kiki melihat-lihat bentuk dan desain tablet. Lumayan untuk tablet di bawah satu juta rupiah.

Dari seberang, Yarsi berseloroh, “nanti aku pinjam ya, siapa tahu bosan di kantor, bisa nonton TV,” ujarnya disambut tawa seisi meja. Untunglah suasana mencair sekarang, walau terbersit rasa senang menerima hadiah Abidin, hatiku memang masih waswas, cincin di saku kananku sudah menunggu untuk dikeluarkan.

Aku menunggu sampai semua hadiah keluar, baru kuutarakan maksudku pada Yarsi. Aku harus menunggu lagi lebih lama karena hadiahku untuk buka bersama pun belum ada yang menerima.

“Din, nih giliranmu,” ujarku ke Abidin, sekarang gilirannya.

#cerpenramadhan #crhari22