Buka Bersama: Sudut Pandang Narto, bagian 6

“Aku mendapatkan hadiah dari Dahlia,” ujarku sambil menunjukkan kertas itu ke muka Dahlia. Ujaranku direspon biasa saja oleh Dahlia karena sepertinya dia masih kecewa hanya menerima 10 lembar tiket untuk perjuangannya membawa kotak sebesar itu dari Jakarta ke Bandung.

Sedetik kemudian muncul senyuman di ujung bibir Dahlia, dia berkata, “ini aku tadi membawa lukisan hasil lukisanku karena kamu yang mendapatkannya, semoga kamu suka ya, ini lukisan abstrak, bisa dipajang di kamar tidur, di ruang tamu, atau di ruang keluarga, warnanya cerah sesuai dengan kepribadian kamu, sang musisi.”

“Wih, aku dapat lukisan dari Dahlia, aku buka sekarang ya,” ujarku sambil menyobek kertas coklat yang membalut lukisan tersebut. Aku lihat lukisan tersebut mempunyai dominan warna oranye dan cokelat, pas sekali dengan ruangan keluargaku yang bernuansa kayu.

“Wah, Dahlia, ini sepertinya cocok untuk dipasang di ruang keluargaku, dominan cat di ruang keluargaku bernuansa kayu,” ujarku.

“Ya siapa tahu kalau nikah nanti rumah kalian juga mampu menampung lukisan-lukisanku ya,” ujar Dahlia sambil melirik Cici, rupanya Dahlia sudah hilang kekecewaannya, kini dia malah merayuku dan Cici, dasar Dahlia, ada-ada saja.

Setelah Dahlia berucap demikian, mataku tentu saja langsung melirik Cici, mukanya tampak merah entah karena marah atau karena malu, apapun itu, wajahnya tetap cantik.

Walaupun aku harus menjadi ekstrovert saat menjadi penyanyi, aku masih orang yang masih malu untuk mengungkapkan perasaan. Setelah putus dari Cici, tak ada satupun perempuan yang mampu menggantikannya. Andai Cici tahu bahwa aku telah membuatkan beberapa lagu dan kuselipkan dalam album baru itu. Semoga dia merasa, semoga perasaanku dapat diterima oleh Cici melalui lagu-lagu dalam album itu.

“Dahlia, ada maksud tidak di balik lukisan ini? Apa yang kamu maknakan dalam lukisan ini?” tanyaku kepada Dahlia.

Dahlia hanya menjawab, ”lukisan itu sebenarnya merupakan ekspresiku tentang suasana di pegunungan sehabis hujan setelah kemarau panjang, kalian tahu kan wangi pertama yang tercium ketika hamparan tanah terkena hujan pertama kali? Wangi menusuk hidung, tidak bau, bagiku itu menenangkan, bagiku memberikan petunjuk bahwa hijau akan datang, kesuburan akan tiba, saat itu adalah titik balik, semoga orang yang lihat dapat merasa bahwa hidup adalah proses yang akan terus berubah selama mereka masih mau untuk menjalaninya.”

“Dalam sekali, Dahlia, semoga ketika lukisan ini saya pajang di ruang keluarga, orang-orang yang melihatnya mampu untuk mendapatkan makna tersebut, semoga,” setelah mengucapkan kata-kata tersebut, aku serahkan mangkuk ke Kiki, “sekarang giliranmu.”

#cerpenramadhan #crhari21