Buka Bersama: Sudut Pandang Rosikin, bagian 9

“Yang belum menyerahkan kado tinggal Kiki dan Kartini ya?” ujar Rosikin sambil memilih satu di antara dua gulungan tersisa. Dia ambil segulung, lalu dibaca, “Wah, Kartini, aku tahu ini hadiahnya apa.”

Sehelai kain tenun Lombok, itulah hadiah dari Kartini. Motifnya yang sederhana, ringan beratnya, dan akan tampak pantas bagi siapapun yang memakainya. Kain itu dibawa dari Sade, dari seorang perempuan tua, yang menenun dengan sisa-sisa tenaganya. KAdang beliau lelah, terduduk, mengumpulkan tenaga, di balik matanya yang sayu.

Nenek tua itu menjadi langganan Kartini jika ke Sade, bukan karena kasian, tetapi karena setiap helai dibuat dengan perjuangan, dengan harapan bahwa penghidupannya tak akan berakhir. Sehelai kain itu adalah bukti bahwa dirinya terus berjuang, setua apapun dirinya.

“Kain itu aku hadiahkan agar kita semua menghargai proses, perjuangan, bahwa segala sesuatu itu adalah hasil keringat kita. Pembuatnya menitipkan padaku, uang yang kuberikan padanya diterima dengan senyum merekah, senyum di balik keriputnya yang tak kunjung menghalus,” ucap Kartini dengan damai.

Adakalanya diri ini menjadi tak sabaran, tapi mendengar ceria Kartini, dirinya paham bahwa proses itu tak akan mengecawakan. Aku melupakan proses itu, mungkin itulah yang membuatku gagal di setiap perkara.

“Kain ini mungkin adalah helai keseratus yang dibuat oleh ibu itu, angkanya terlihat sedikit, tapi bayangkan berapa helai benang yang menyusun seratus tenun ini,” ujar Kartini. Rosikin mengiyakan dalam hati, kawannya ini memang menjadi lebih dewasa pasca kematian pacarnya. Rosikin berdoa bahwa Kartini mampu membangun kisah cintanya kembali, di lain pihak, Rosikin juga bersyukur bahwa Kartini tak putus asa saat kekasihnya meninggal.

“Proses itu memang penting, guys,” timpal Kiki, “semacam hubungan antarmanusia, dilakukan tanpa proses adalah kesia-siaan.”

Aku terkejut mendengar ucapan Kiki, tak biasanya dia seserius ini. Ada apa gerangan? Kulirik Yarsi, nampaknya dia pun terkejut, dahi mengernyit.

“Malam ini juga bukti bahwa proses pertemanan kita tak hanya berlandaskan materi, tapi dari hati, banyak hal yang telah kita lalui bersama, semoga pertemanan kita selalu seperti ini, walau aku khawatir karena taka da yang abadi kecuali perubahan,” lanjut Kiki.

“Di mangkuk itu ada satu gulungan lagi, sudah pasti namaku, yang belum menerima hadiah hanya Yarsi, kekasihku,” Kiki berujar, “tadinya aku akan menyerahkan buku dalam bungkusan kado ini, tapi sepertinya aku urungkan niatku.”

Seisi meja nampak kebingungan, ada apa dengan Kiki?

#cerpenramadhan #crhari24