Buka Bersama: Sudut Pandang Yarsi, bagian 10 – tamat

Dari semenjak tadi siang, Kiki terus mengirim pesan padaku, pertanyaannya kadang serius, kadang bercanda. Aku meladeni saja semua pertanyaannya karena sedang tak berkegiatan di kantor, suasana kantor memang sudah lengang, banyak yang sudah mengambil cuti.

Kiki pun bersikeras bahwa nanti malam aku harus memakai baju warna putih karena dirinya juga akan memakai baju putih. Dia juga menanyakan bunga favoritku apa. Ketahuilah bahwa kami sudah berpacaran selama 7 tahun, tak pernah sekalipun dia menanyakan atau memberikan bunga favoritku. Aku tak peduli karena bunga bukanlah bukti cinta. Kujawab saja, mawar merah.

Aku berangkat sendiri ke tempat buka bersama. Jalanan menggila karena hari terakhir kerja, mungkin semua orang tak sabar kembali ke rumah. Aku pun sampai ke lokasi hanya lima menit sebelum azan magrib. Kiki sudah lebih dahulu tiba. Aku sapa dirinya, kulihat memang dia memakai pakaian putih dan celana jeans.

Kiki itu seperti tiang yang menopangku di kala ambruk, aku bersyukur mengenal dirinya. Aku pernah bercerita pada ibuku bahwa sebelum kami pacaran, tak pernah terbersit akan kebaikan Kiki. Dia cenderung ugal-ugalan, tak pernah serius.

Petang yang berlalu tampak beda, kuliaht Kiki dari seberang meja, dia lebih banyak diam. Padahal biasanya dia menjadi lelucon geng. Aku awalnya diam saja melihat kelakuan tersebut, tapi ketika dia berbicara soal proses, aku kebingungan. Ada apa dengan Kiki?

“Yarsi, sudah tujuh tahun kita mengenal, melewati suka bersama, banyak juga duka yang terlewati, mala mini, di depan teman-teman kita ada satu pertanyaan penting yang ingin kuutarakan,” ucapan Kiki membuatku kaget, dia beranjak dari tempat duduknya, menuju ke tempat dudukku.

Sudah tak kulihat lagi teman-teman di sampingku. Muka mereka pasti heran, tapi tak seheran mukaku. “Kenapa, Ki, ada apa?” pertanyaanku dijawab diam oleh Kiki, dia masih mengitari meja, menuju ke arahku.

Kemudian dia berlutut, kudengar suara kaget teman-temanku.

“Yarsi binti Mujahid dan Marinah, maukah kamu menjadi istriku, melewati masa tua bersamaku, meniti jalan ke surga agar kita bisa berkumpul kelak?” lamar Kiki.

Hening mendera, gendang telingaku berhenti menerima rangsangan bunyi dan suara. Kemudian mulut ini berkata, “Kiki bin Tarjo dan Euis, aku siap menjadi istrimu, menjadi makmummu, selama keluarga kita merestui.”

Kulihat mata Kiki berkaca-kaca, momen besar bagi hidupnya, bagiku adalah khidmat.

#cerpenramadhan #crhari25