Harapan: Tim Pendahulu

Ada hal baru di Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau batch 5; saya menjadi bagian dari tim pendahulu.

Tim pendahulu Pulau Harapan berangkat pada hari sabtu, 9 April 2016, dari Pelabuhan Kaliadem, Jakarta sekapal dengan tim pendahulu Pulau Kelapa dan Sebira. Tim ini berangkat lebih awal untuk mempersiapkan lokasi serta beramah tamah dengan otoritas dan penduduk setempat. Perjalanan ke pulau cukup singkat, hanya 3 jam.

Tim pendahulu dari Pulau Harapan dan Kelapa menginap di tempat yang sama. Tim Sebira hanya singgah untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Sebira; sekitar 4 jam perjalanan laut dari Pulau Harapan.

Pulau Harapan merupakan persinggahan para pelancong sebelum mengelilingi beberapa lokasi selam dan pulau wisata lainnya. Dermaga pulau ramai setiap hari, apalagi di akhir pekan ada pasar malam lengkap dengan iringan musik dangdut. Sepanjang dermaga, air laut yang jernih menampakkan kawanan ikan julung-julung dan kepiting yang lalu lalang.

Matahari masih tinggi, dermaga di sabtu siang masih ramai. Di sebelah gerbang dermaga, berdiri kantor kelurahan, tujuan pertama kami.

Tim pendahulu bergegas ke kantor kelurahan untuk menyampaikan surat ijin berkegiatan di pulau. Kami disambut baik oleh ajudan yang kemudian mengantarkan kami ke rumah dinas Pak Lurah; beliau hendak ke Pulau Pramuka sorenya. Saya sendiri sedikit kaget melihat paras Pak Lurah Pulau Harapan yang masih muda; terpaut hanya dua tahun di atas saya. Beliau juga menyambut baik kedatangan kami seraya berpesan untuk membangun kepercayaan diri anak-anak pulau; mereka seharusnya dapat bersaing sehat dengan anak pulau lain, bahkan Jakarta. Beliau juga menekankan pentingnya koordinasi dengan otoritas setempat saat melakukan kegiatan karena kini banyak organisasi yang menyebarkan paham menyimpang dan berbahaya bagi masyarakat pulau.

Setelah sekitar dua tahun menjabat, beliau sudah memfasilitasi taman di depan dermaga dengan wifi gratis. Beliau ingin anak pulau bisa mencari manfaat informasi terbuka dari dunia luar. Ada juga perangkat drum band bagi remaja; kini sepi peminat karena tidak ada pelatih kompeten di pulau. Saat ini juga tengah dibuka kembali tender perbaikan bangunan fisik SMP yang sudah rusak sejak 3 tahun lalu. Tender perbaikan selalu kandas karena biaya logistik yang tidak sedikit.

Usai bercengkrama dengan Pak Lurah, kami bergegas ke rumah Pak Ma’nus, Kepala SDN Harapan 01. Rumah beliau menyatu dengan warung kecil serba ada, dari barang kebutuhan sehari-hari hingga cinderamata khas pulau. Sebelum ke pulau, sudah ada koordinasi dengan beliau sehingga saat itu kami hanya meminta ijin untuk memasang dekorasi di halaman sekolah. Sebelum mengantarkan ke sekolah, beliau mengantarkan kami ke rumah Ibu Chandra, salah satu guru senior di SD. Ibu Chandra membantu kami mengoordinasi ibu-ibu dari murid untuk datang dalam acara penyuluhan kesehatan dan kelas prakarya.

Sore harinya, kami kembali ke sekolah dengan jinjingan dekorasi, spanduk, dan poster untuk dipasang di sekolah. Sepanjang jalan kami juga melakukan promosi dengan mengajak ngobrol beberapa anak kecil untuk hadir di acara esok hari.

Menjelang malam, kami kembali ke penginapan, berkumpul bersama tim pendahulu dari Pulau Kelapa. Kami semua kemudian makan malam bersama di pasar malam dermaga. Suasananya gempita karena tepat di malam minggu, setiap sudut pasar dipenuhi bermacam jajanan dan sesak oleh pengunjung lokal maupun luar pulau.

Kebersamaan antarrelawan di kedua pulau berlanjut hingga tengah malam, kami bercengkrama dan bercanda di teras rumah. Walau sebelumnya tidak mengenal satu sama lain, malam itu kami nampak akrab hanyut dalam obrolan.

Hari Minggu pun tiba, finalisasi dekorasi dilakukan sebelum matahari meninggi. Kami bertemu dengan beberapa anak yang kebetulan sedang bermain di halaman sekolah. Wajah mereka antusias seraya menanyakan detil permainan sore harinya. Salah satunya adalah Rizky, usianya 6 tahun, namun masih duduk di bangku TK. Mulut yang cerewet membuatnya menjadi cepat akrab dengan kami.

Tim pendahulu adalah jembatan awal bagi tim yang masih di Jakarta dengan masyarakat sekaligus koordinator untuk semua finalisasi teknis di lapangan. Beruntung saya dipasangkan dengan orang-orang cekatan dan rela naik pagar untuk memasang umbul-umbul 🙂

Lepas tengah hari, semua tim dari Jakarta tiba, kami hanya tinggal memandu mereka untuk bergegas ke sekolah untuk memulai kegiatan masyarakat dan permainan edukasi bersama anak-anak.