Hari Sunat

Anak kecil itu bernama Ian, umurnya masih 7 tahun, sudah saatnya disunat. Awalnya Ian tidak takut, tetapi kawan-kawannya yang sudah lebih dulu disunat mulai menakuti. Mulai dari rasa sakit, bayang-bayang pisau yang tajam, sampai cucuran darah yang katanya tak berhenti mengalir.

Ian khawatir dengan segala ketakutan itu. Dia mulai merengek tak mau disunat. Bapak dan ibunya juga khawatir, mereka bingung bagaimana membujuk anak sulungnya itu.

Tibalah hari besar Ian, pagi ini semua keluarga dan tetangga diundang untuk prosesi sunat Ian. Ian sejak subuh sudah dimandikan oleh ibunya, dipakaikan baju koko dan sarung baru.

Ibunya puas mendandani Ian, dia beranjak ke ruang tamu untuk menyapa tamu yang terus berdatangan. Semua warga desa berjibun di pekarangan rumah Ian. Mantri sunat desa datang membawa koper hitam berisi berbagai peralatan sunat. Ibu Ian pun bergegas ke kamar memanggil putera kesayangannya. Alangkah bingungnya ketika beliau tak melihat Ian di kamar, di ruangan lain pun tak ada.

Bulir-bulir keringat muncul di dahi Ibunda Ian, ke mana gerangan anaknya itu? Pertanyaannya segera terjawab manakala ada teriakan warga yang sudah berjibun di pekarangan. Ibunda Ian lalu keluar. Beliau kaget, anaknya sudah berada di atap rumah.

Semua orang berusaha memanggil Ian untuk turun, bapak Ian bahkan sigap memanjat tangga untuk menjemput Ian. Bapaknya meminta Ian segera turun, Ian hanya menjawab, “Ian maunya disunat di sini, di atas atap!”

Segala bujukan bapaknya Ian tak membuahkan hasil, dirinya pasrah mengikuti kemauan anaknya. Beliau turun dari atap, menghampiri mantri sunat desa. Apa mau dikata, mantri tersebut naik ke atap ditemani bapak dan paman Ian.

Prosesi sakral dimulai, disambut jeritan Ian, dan doa-doa dari semua warga yang menengadah melihat proses sunat Ian di atas atap. Selesai sudah, Ian digendong bapaknya turun dari atap, dibawa ke ruang tamu, disambut tawa tak percaya dari segenap warga kampung.

#crhari19 #cerpenramadhan #fiktif