Laila Majnun: Before Iftar, bagian 3

Siang itu Laila sudah sibuk di dapur. Dirinya memasak sambal kentang merah, dicukupkan porsinya untuk menjamu keluarga besar ayah dan ibunya yang biasa berkunjung di hari pertama lebaran. Ibunda Laila sibuk memasukkan beras ke dalam anyaman ketupat, sudah lebih dari 50 anyaman yang siap direbus.

Kegiatan memasak menu lebaran ini dilakukan tiap tahun. Ketika ibunda Laila masih sehat benar, semua kegiatan memasak dilakukan sendiri. Kini ada Laila yang sudah dewasa dan sedang berniat untuk pandai masak. Sebagian tugas memasak diserahkan pada Laila. Tadi pagi saja Laila sudah menyelesaikan menu opor ayam, bumbunya langsung didikte oleh sang ibu, diingat dalam memori Laila.

Menjelang sore, Laila menghubungi Majnun. Rupanya Majnun masih terjebak dalam kemacetan di sekitar Purwakarta. Padahal dirinya berangkat dari bandara Jakarta sejak pagi tadi. Laila kini tak terlalu khawatir, sudah biasa macet menjelang lebaran seperti ini. Lepas Nagrek mungkin lalulintas akan kembali lancar. Laila memperkirakan suaminya tiba di rumah menjelang tengah malam. Saat malam takbiran.

Di ruang tamu, ayah Laila sibuk membersihkan debu dan mengepel lantai. Bersiap menerima tamu esok hari. Tak lupa beliau juga menyiapkan amplop kecil untuk anak-anak dan cucu-cucu saudaranya yang bersilaturahim ke rumah. Satu amplop diisi lembaran dua puluh ribu. Jumlahnya sekitar seratus amplop.

Laila dan ibunya hampir selesai memasak. Menu buka di hari terakhir Ramadan adalah menu lebaran. Seperti begitu setiap tahun. Tradisi yang dulu juga dilakukan orangtua dari ibunda Laila.

Laila melihat ponsel, Majnun rupanya sudah melewati Bandung, menuju Nagrek. Menurut berita di televisi, lalulintas Nagrek tidak terlalu parah karena terbantu jalur lingkar luar Nagrek. Mungkin sedikit tersendat di pasar kaget di sepanjang jalan.

Menjelang buka, Laila menyempatkan diri untuk berwudu, lalu ke kamar, dan membuka mushaf Quran. Tadarus terakhir di Ramadan. Seperti tahun lalu, dirinya tidak berhasil menamatkan 30 juz, namun tahun ini mengalami peningkatan, dia menamatkan 20 juz.

Beduk di mesjid desa sudah terdengar, Laila bergegas melepas mukena dan menuju ruang makan. Di luar rumah masih terdengar petasan dan kembang api yang dinyalakan oleh pemuda desa. Suasana riuh sekaligus syahdu, lebaran tiba, hari kemenangan sudah di depan mata.

Ponsel Laila berdering, pesan gambar dari Majnun, roti dan susu untuk menu berbuka. Laila membalas dengan gambar ketupat yang disiram opor dan ditaburi sambal kentang merah.

“Aih, di rumah sudah lebaran,” jawab Majnun pada Laila.

#cerpenramadhan #crhari29