Laila Majnun: Before Imsyak, bagian 2

Majnun sudah berada di bandara, menanti pesawat ke Jakarta. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Dirinya ingin sahur, tapi belum begitu lapar. Dia memutuskan untuk makan menjelang boarding, sekitar pukul 4.20.

Ponsel Majnun berdering, Laila sudah bangun dari tidur, menanyakan posisi suaminya. Begitu lega hati Laila mendengar kabar bahwa suaminya sudah di bandara, hendak kembali ke Jawa. Laila menanyakan perihal apakah suaminya sudah sahur atau belum. Dirinya juga bercerita bahwa sahur terakhir di Ramadan ini terasa ramai di luar rumah. Para pemuda sibuk menyalakan petasan, kembang api, sampai petasan bambu. Ayah Laila tak bisa tidur dibuatnya, beliau maklum karena ini terjadi setahun sekali.

Laila bercerita kalau dirinya telat tidur tadi malam, hampir saja telat bangun, sayang jika terlewat sahur karena puasa tinggal satu hari. Dirinya bangun di waktu sahur ini untuk menemani kedua orangtuanya seraya menyiapkan makan. Ayah Laila memang belum terlalu tua, baru berumur 55 tahun, beliau pensiun dini dari pekerjaannya di kantor kabupaten. Lepas pensiun, beliau mengajak keluarganya untuk tinggal di Desa Balong, jauh dari hiruk pikuk ibukota kabupaten. Di Desa Balong yang dekat pantai ini, cuacanya lebih segar, walau siang hari kadang panas. Paling penting bagi beliau adalah masa tuanya tidak dihabiskan di polusi kota.

Ibu Laila setahun lebih muda. Beliau adalah pensiunan guru sekolah dasar. Berbeda dengan saudara-saudarinya, ibunda Laila hanya memiliki satu anak, Laila adalah anak tunggal. Beliau selalu mengalami keguguran setelah melahirkan Laila. Berbagai cara sudah ditempuh, namun memang belum ditakdirkan memiliki anak lagi.

Dengan demikian, selepas Laila menikah dengan Majnun, pesan pertama sang ibu hanyalah meminta cucu. Beliau rindu menimang bayi. Laila yang dikenal patuh sudah mencoba memiliki anak bersama Majnun, tetapi belum juga dikaruniai.

Menjelang pukul empat pagi, Laila mengingatkan suaminya untuk sahur. Majnun kemudian mendatangi sebuah kedai, memesan nasi soto dan segelas teh manis hangat. Laila menutup telepon, memberikan kesempatan bagi suaminya untuk sahur.

Laila yang sedari tadi menelepon sambil menyiapkan sahur, kemudian menyajikan makanan di meja makan. Ayah dan ibunya sudah duduk sambil menonton acara tafsir Quran di televisi. Setiap tahun, acara itu menjadi teman sahur mereka.

Laila duduk di samping ibunya, ikut makan. Ketiganya larut dalam selingan obrolan, merencanakan kegiatan nanti siang; mereka akan memasak ketupat, opor ayam, dan sambal kentang merah.

Tiba-tiba Majnun mengirim pesan, “Saya boarding dulu ya, bismillah.”

#cerpenramadhan #crhari28