Laila Majnun: Before Takbir, bagian 4 – tamat

Laila bersama ibunya menata kue di ruang tamu. Ayah Laila selepas magrib tadi ke masjid untuk takbir bersama warga kampung. Suara takbir, petasan, membahana di Desa Balong di pesisir selatan Jawa Barat.

Kue yang dibuat Laila disusun rapi dalam toples besar, isinya dibuat bermacam-macam sehingga tamu tidak perlu membuka banyak toples. Ada kastangel, putri salju, nastar isi nanas, nastar isi stroberi, ada juga kue kacang. Akan tetapi kue favorit keluarga Laila adalah kue lapis. Sudah dari dua hari lalu ibunda Laila membuat kue lapis. Resepnya sama seperti yang diajarkan nenek Laila.

Laila menyalakan televise, melihat laporan lalulintas di sepanjang Nagrek menuju pesisir selatan. Majnun tak membalas pesannya sejak isya tadi, mungkin dia tertidur pulas atau baterenya habis. Laila melanjutkan menyusun kue.

Menjelang tengah malam, Laila kembali menghubungi Majnun, tetap tak ada jawaban. Laila sedikit cemas. Dirinya kemudian menyusul ayahnya ke masjid. Ibunda Laila tak ikut serta, beliau memilih untuk tidur karena sudah terlalu mengantuk.

Sepanjang perjalanan ke masjid, Laila sedikit terhibur dengan warna-warni kembang api di udara. Banyak anak kecil membawa obor, berarak mengelilingi masjid dan sekitarnya. Dulu, Laila juga sering melakukan hal serupa, selepas SMP, dirinya tak lagi mengikuti arak-arakan di desa karena ikut ayahnya dinas di ibukota kabupaten. Ada yang membawa obor sambil berteriak takbir, ada yang membawa obor sambil berlari, banyak rupa tingkah mereka.

Lewat tengah malam, Laila masih berjamaah mengumandangkan takbir di masjid. Sesekali dia melihat ponsel, masih tak ada jawaban dari Majnun. Ke manakah gerangan suamiku?

Di antara pertanyaan Laila, tiba-tiba ayahnya mengajak Laila untuk pulang. Mereka berdua kemudian kembali ke rumah dan beristirahat untuk solat id besok. Laila sudah tentu tak bisa tidur, ayahnya tadi menenangkan Laila dengan alasan mungkin Majnun kehabisan batere atau masih terkena macet. Fisik yang lelah sehabis memasak mengalahkan pikiran Laila yang tak tenang, dirinya terlelap dalam tanya.

Ketukan pintu membangunkan Laila, rupanya subuh telah tiba, ayah Laila mengajak untuk solat berjamaah bersama sang ibu. Laila menyadari bahwa Majnun belum juga tiba. Perasaan Laila menjadi tak menentu, tak mungkin suaminya tak mengabari selama ini. Laila yang masih risau bergegas wudu, lalu solat berjamaah subuh. Kekhusukannnya terganggu, kalut dengan memikirkan sang suami.

Takbir kembali berkumandang di masjid, diselingi pengumuman mengenai pelaksanaan solat id. Matahari sudah nampak, takbir pun segera berakhir. Saat itu pula ponsel Laila berbunyi, ada telepon tak dikenal. Laila senang, mungkin Majnun berhasil menghubunginya. Dari seberang telepon terdengar suara.

“Selamat pagi, Ibu Laila, kami dari posko polisi Nagrek, sebelumnya kami turut berduka cita, seseorang yang mungkin ibu kenal, atas nama Majnun, mengalami kecelakaan tengah malam tadi, beliau tewas seketika, mohon konfirmasi agar kami bisa menjelaskan lebih lanjut untuk pengurusan jenazah.”

#cerpenramadhan #crhari30