Menerawang Gili Trawangan

Perahu bermuatan dua-puluh orang itu menepi di dekat labuhan kecil. Hampir setiap perahu dari Pulau Lombok berlabuh di sini, di sisi timur pulau. Mata saya silau karena pantulan sinar matahari di pasir putih dan laut biru kehijauan. Satu per satu penumpang turun, termasuk saya. Kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau ini, Gili Trawangan.

Dermaga Perahu Gili Trawangan
Dermaga Perahu Gili Trawangan

Beranjak saya memasuki jalan utama. Barisan kafe dan hotel saling berhadapan, melingkup jalanan berpasir. Pulau kecil ini sepenuhnya dikelilingi pasir putih. Tak ada polusi udara, yang ada hanya suara deburan ombak, semilir angin, dan wangi ikan bakar.

Di depan sebuah hotel saya menghampiri pemuda dengan barisan sepeda di sampingnya. Rupanya dia menyewakan sepeda. Setelah saya hampiri dan negosiasi harga, akhirnya saya menyewa salah satu sepeda milik pemuda tersebut. Mujur, ransel besar saya muat di dalam keranjang sepeda, saatnya berkeliling pulau.

Menurut buku panduan, panjang perimeter pulau sekitar 14 kilometer. Rute berkeliling yang saya ambil searah jarum jam karena hari sudah sore, saya mengejar matahari terbenam di sebelah barat. Sambil saya bersepeda ke arah selatan, di sisi kiri saya terhampar lautan biru kehijauan di bawah langit biru cerah. Di beberapa lokasi terlihat pasangan-pasangan duduk berhadapan menikmati romantisme laut. Melihat mereka penuh senyum membuat saya ingin tersenyum, walaupun saya hanya sendiri, di atas sepeda.

Biarlah romantisme ini milik mereka sekarang, mungkin nanti akan tiba masanya bagi saya.

Kafe-kafe romantis itu berjajar dengan dekorasi khas, penuh bunga, berbalut kain toska, dan lampion-lampion kertas. Ada pula sebuah gazebo yang disulap seperti altar pernikahan, mungkin sepasang kekasih telah mengikat janji di gazebo tersebut. Ide yang unik menikah di pinggir pantai seindah Gili Trawangan ini.

Gazebo Pernikahan
Gazebo Pernikahan

Jalan yang saya susuri condong ke kanan, tandanya saya mulai memasuki bagian selatan pulau. Suasana menjadi sepi, diselingi pepohonan mangrove di pinggiran jalan. Saya berhenti sejenak untuk duduk di pinggir pantai. Begitu sepi.

Pepohonan Mangrove
Pepohonan Mangrove

Seusai berkontemplasi, saya bergegas lagi mengayuh sepeda ke arah barat, masih di perimeter Gili Trawangan. Bagian barat pulau ini lebih banyak diisi oleh resor-resor kecil nan cantik. Suasanya lebih hening dibandingkan sisi timur pulau. Pantainya pun lebih terbuka, sangat jarang terlihat kafe. Area barat ini cocok bagi mereka yang mencari inspirasi atau menulis buku sambil memandangi lautan. Di kejauhan terlihat siluet gunung tinggi, saya pikir itu Gunung Agung di Pulau Bali karena lokasinya yang tepat di sebelah barat Gili Trawangan.

Bale Santai Pinggir Pantai
Bale Santai Pinggir Pantai

Saya berhenti sejenak di sebuah bangku, duduk-duduk sambil mengamati sekitar. Beberapa turis mancanegara sedang telungkup berjemur, sebagian lagi membaca buku, namun yang menarik perhatian saya adalah seekor kucing yang menggeliat di pasir pantai yang hangat. Begitu menggemaskan.

Kucing Menggeliat di Pasir yang Hangat
Kucing Menggeliat di Pasir yang Hangat

Langit mulai menjingga, matahari sudah condong di ujung barat, saya bergegas lagi mengayuh sepeda agar tiba kembali di bagian timur pulau sebelum malam tiba. Akan tetapi, saya terhenti di sebuah kafe berisi banyak turis mancanegara, mereka sedang khidmat menyantap hidangan dengan pemandangam matahari tenggelam yang menakjubkan.

Matahari Tenggelam
Matahari Tenggelam
Pelancong Menikmati Matahari Tenggelam
Pelancong Menikmati Matahari Tenggelam

Begitu banyak matahari tenggelam yang saya saksikan, tetapi mungkin matahari tenggelam di sore itu adalah yang paling indah. Bulatan kabur matahari perlahan turun seakan tenggelam ke dalam lautan. Gili Trawangan begitu syahdu sore itu.

Esok paginya seusai sembahyang, saya keluar kamar hotel, menuju pasar. Menurut penjaga hotel, banyak ibu-ibu yang menjual nasi campur hangat di sekitar pasar. Benar memang, tak hanya satu penjual, tetapi banyak. Pembelinya pun sudah bergumul sebelum matahari terbit sempurna. Ibu-ibu penjual nasi begitu ramah, meladeni pesanan nasi dengan tambahan senyum dan kadang tambahan kerupuk.

Nasi hangat ditambah lauk pauk yang hangat pula terasa lebih nikmat jika disantap di pinggir pantai. Air laut masih dingin, angin masih sepoi-sepoi, dan hawa pantai belum terlalu panas.

Gili Trawangan menawarkan kesyahduan pantai dan keromantisan alam. Pulau kecil ini menawarkan segalanya bagi mereka yang mencari hal-hal berbeda. Ada kekhidmatan, ada keasyikan, ada ketenangan, ada kebersamaan, semuanya bisa didapat di sini.

Info singkat menuju Gili Trawangan
Ada berbagai cara menuju Gili, tetapi ada tiga jalur yang sering dipakai pelancong.
Jalur pertama adalah melalui kapal cepat sewa dari Bali, bisa disewa oleh pribadi maupun komunal bersama pelancong lain.
Jalur kedua adalah melalui kapal ferry dari Padang Bai, Bali, menuju Lembar, Lombok. Jalur ini cocok bagi pelancong berdana terbatas yang ingin menikmati Bali sekaligus Lombok dan Gili. Banyak angkutan umum dari Pelabuhan Lembar hingga ke pelabuhan terdekat ke Gili Trawangan, untuk kemudian menyewa perahu komunal bersama pelancong lain.
Jalur ketiga adalah bagi mereka yang tiba di Lombok lewat jalur udara. Banyak pilihan angkutan dari Bandar Udara Internasional Lombok menuju pelabuhan terdekat ke Gili Trawangan.

https://youtu.be/BpV6NfiI0XE

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kompetisi blog World Travel Writer Gathering 2015.

Info lebih lanjut dapat dilihat diĀ www.twgathering.com