TAXING CITIZEN

Beberapa waktu lalu, ada email masuk meminta data pribadi untuk keperluan pembayaran pajak. Beruntunglah saya karena urusan bayar pajak sudah ditanggung perusahaan, tak usah meluangkan waktu untuk membayar sendiri. Berkaitan dengan itu, saya teringat soal ujicoba penerapan pajak di SimCity yang pernah dilakukan. Tulisan ini kemudian dibuat untuk mengungkapkan hasil ujicoba dan kaitannya dengan kehidupan sekitar saya.

Latar Belakang Kota

Kota simulasi merupakan kawasan urban dengan ratusan gedung bisnis pencakar langit. Pusat bisnis ini dilengkapi dengan distrik-distrik apartemen, kompleks olahraga, aerocity, industri teknologi tinggi, pelabuhan laut, edukasi, serta kawasan terpadu transportasi. Kawasan-kawasan besar ini dihubungkan dengan sistem jalan tol super lebar dan jalur kereta bawah tanah yang menjorok hingga kawasan sudut kota.

Kota Orcha

Secara demografis, lebih dari 50% penduduk kota berusia 50 tahun ke atas. Tingkat pendidikan rata-rata setiap kelompok umur mendekati angka maksimal 200. Begitu pula dengan tingkat kesehatan dan angka harapan hidup, semua hampir sempurna nilainya. Pendapatan perkapita setiap orang melebihi $200,000 dengan tingkat kriminalitas hanya 12 kasus per 200,000 penduduk.

Dalam hal lingkungan, tingkat polusi udara kota ini masih dipengaruhi oleh tingginya angka pengguna mobil dan bus. Secara perlahan, pengguna kereta bawah tanah ditingkatkan dengan menambah jalur dan stasiun, serta memasang pintu tol otomatis di jalan-jalan yang langganan macet. Tingginya pekerja migran dari luar kota menyebabkan kapasitas bandara, terminal kapal cepat, serta stasiun kereta antarkota selalu melebihi angka normal. Upaya perbesaran bandara telah dilakukan hingga pembuatan terminal baru untuk mengurai kepadatan.

Bandar Udara Orcha

Fasilitas edukasi tersedia dari sekolah dasar hingga universitas, baik yang didanai oleh pemerintah maupun swasta. Kapasitas fasilitas edukasi dibatasi secara manual dengan konfigurasi satu guru untuk maksimal 30 murid dan satu dosen untuk 10 mahasiswa. Fasilitas rumah sakit tersedia dengan konfigurasi satu dokter untuk 10 pasien.

Fasilitas pendukung kota seperti stadium dan balai pertemuan tersedia di satu kawasan terpadu yang khusus dibuat berdekatan dengan pusat bisnis, bandara, serta stasiun kereta utama. Area ini juga berdekatan dengan taman kota yang luasnya hampir 10% dari total kota. Para pelancong juga dimanjakan dengan puluhan hotel yang tersedia di tempat-tempat strategis. Pilihan wisata beragam, seperti kawasan perjudian, kebun binatang, dan museum.

Sumber listrik utama kota saat ini berasal dari pembangkit listrik tenaga gas alam yang hampir ramah lingkungan. Pada awal pembangunan kota, sumber listrik berasal dari pembakaran batubara. Berbagai sumber energi alternatif mulai dibangun; tenaga surya, angin, dan pembakaran sampah.

Selama seratus tahun pertama, kota ini maju pesat; pemasukan kota mampu melebihi biaya pengeluaran serta perawatan kota. Pemasukan kota berasal dari pajak rumah, bisnis, dan industri, jasa pengolahan sampah kota tetangga, ekspor listrik, ekspor air, tiket transportasi, tiket jalan tol, dan legalisasi perjudian di kawasan berikat. Rasio pemasukan dan pengeluarannya adalah $1 dana masuk untuk menutupi $0.87 dana keluar.

Sistem Jalan Tol Orcha, Penyumbang Terbesar Pemasukan Kota Selain Pajak Bangunan

Permasalahan

Suatu saat, penasihat transportasi melapor adanya kemacetan luar biasa di intersection jalan tol utama. Intersection ini menjadi salah satu dari dua alternatif jalan tol dari kawasan penduduk menuju pusat bisnis. Indikasi utama tentu karena kelebihan pengguna jalan. Solusi yang langsung dijalankan adalah dengan membangun lima rute baru kereta bawah tanah yang langsung menuju ke pusat bisnis tanpa harus transit di stasiun utama. Ternyata rute ini kurang diminati, mungkin karena rendahnya kapasitas stasiun di kedua titik balik. Pilihan memperbesar kapasitas stasiun tidak memungkinkan karena lahan yang sempit, maka dibuatlah pintu-pintu tol otomatis untuk memaksa pengguna mobil beralih ke kereta bawah tanah. Solusi tersebut berhasil dengan berubahnya indikator kepadatan jalan dari sangat padat menjadi sedikit di atas normal.

Untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap pusat bisnis dalam kota, dibuatlah akses kereta api, bandara, serta kapal cepat ke kota tetangga. Setiap harinya sekitar 30.000 orang bepergian ke luar kota lewat darat dan laut, entah itu untuk bekerja atau lancong. Beberapa pusat bisnis baru dekat pelabuhan pun dibuat untuk mengurai kepadatan menuju pusat kota. Inisiasi ini berlangsung menjelang usia kota yang menginjak umur 200 tahun.

Taman yang diapit gedung apartemen merupakan bekas kawasan padat penduduk

Stagnansi pertumbuhan ekonomi mulai dirasakan setelah dalam kurun waktu 20 tahun tidak terlihat pembangunan gedung apartemen atau pusat bisnis. Pemerintah kota berniat untuk melakukan restorasi di beberapa distrik agar perekonomian tidak stagnan. Satu blok di distrik apartemen superpadat dihancurkan untuk membuat taman kota baru. Penduduk yang tersingkirkan mencapai 10.000 orang. Untuk mengompensasi hal tersebut, dibangunlah pusat tempat tinggal baru dekat bandara di areal bekas lahan pertanian. Kompleks apartemen baru ini dirancang untuk pembangunan gedung apartemen dengan tinggi sedang mengingat lokasinya yang dekat bandara.

Kawasan Kota Baru, Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Kedua

Simulasi Pajak

Simulasi pun dimulai dengan menaikkan rate pajak flat sebesar 7% untuk semua jenis rumah, bisnis, dan industri menjadi sebagai berikut. Residensi dengan tingkat ekonomi rendah mendapat tambahan rate menjadi 9%, ekonomi sedang menjadi 11%, dan ekonomi tinggi menjadi 15%. Perkantoran dengan penghasilan rendah diberi rate pajak 11%, untuk sedang 14%, dan yang tinggi 17%. Perindustrian mendapat porsi pajak tertinggi sebesar 20% flat untuk industri teknologi tinggi, teknologi-tak-ramah-lingkungan, dan industri pertanian.

Lima tahun pertama, jumlah penduduk berkurang hingga 10.000 dari sebelum pajak diberlakukan. Pembangunan kawasan industri pun tidak terlihat, sedangkan untuk perumahan dan perkantoran masih terlihat di sudut-sudut kota. Hal ini dibiarkan karena dalam jangka menengah, semua kawasan industri akan dialihfungsikan menjadi kawasan hijau.

Simulasi dilanjutkan hingga rate pajak untuk perumahan, perkantoran, dan industri menjadi flat 20%. Resistensi penduduk terhadap kenaikan pajak terlihat saat rate mencapai 15%, jumlah penduduk yang pada awalnya terus berkurang menjadi cenderung tetap hingga rate mencapai 20%. Total penduduk yang berkurang dari mulai rate pajak 9% menjadi 20% adalah 21.000 orang. Di lain pihak, indikator kesehatan, lingkungan, pendidikan, ekonomi, keamanan, dan penggunaan transportasi menjadi lebih positif dengan minim fluktuasi.

Simpulan

Pertanyaan saya sekarang, apakah simulasi ini akan berlaku pada masyarakat yang sebenarnya?

Secara kasat mata, nampaknya tidak sama. Resistensi masyarakat asli bukan dinegasikan oleh kepergian mereka dari tempat pajak itu diberlakukan, tetapi lebih ke penolakan secara besar-besaran. Mari sedikit berandai-andai.

Pajak kendaraan pribadi yang umum sekitar 1% per tahun dari skema harga dari pemerintah. Mungkinkah peningkatan pajak akan mengurangi besarnya jumlah kendaraan pribadi di jalanan? Mungkinkah jalan yang lancar akan tercipta dari tingginya pajak kendaraan? Walau standar uang muka sudah dinaikkan, skema kredit kendaraan pribadi masih bisa menggenjot jumlah kendaraan di jalanan. Nampaknya hanya kenaikan pajak ekstrem yang mampu menahan laju kepemilikan kendaraan pribadi.

Kenaikan pajak bumi dan bangunan juga tidak akan banyak membantu untuk mengurangi kepadatan kota. Di Indonesia hanya masyarakat kelas menengah ke atas yang dibebankan pajak ini, belum mampu menahan arus urbanisasi dari warga nonkota yang tidak berkemampuan dan berketerampilan. Permasalahan kepadatan penduduk di kota nampaknya bukan dijawab dengan kenaikan pajak bumi dan bangunan atau pajak tanah, tetapi dengan pemerataan pembangunan ke pelosok daerah. Menahan penduduk desa untuk tetap tinggal di kawasan mereka karena pembangunan yang mumpuni tidak mengharuskan mereka untuk ke kota.

Pajak penghasilan juga sepertinya tidak terlalu berkaitan dengan kepadatan perkotaan, kecuali dalam kasus ekstrem. Orang akan mencari kerja sesuai ilmu dan keterampilan mereka, atau malah hanya karena kesempatan yang tersedia. Lebih jauh lagi, seiring waktu, sebagian orang akan mencari penghasilan lebih tinggi untuk terus menaikkan taraf hidup. Mungkin salah satu solusi yang praktis adalah memperbanyak wirausaha di daerah nonkota sehingga masing-masing daerah dapat bergerak ekonominya.

Sebagai penutup, ada sedikit simpulan untuk disampaikan. Penerapan pajak belum akan sempurna bagi Indonesia untuk waktu dekat karena luasnya jenjang masyarakat yang ada. Sebagai warga yang teredukasi dan berpenghasilan, maka sudah saatnya sadar pajak karena peruntukkannya untuk pembangunan bersama. Penyerapan pajak di Indonesia belum maksimal dan saatnya dimaksimalkan oleh generasi muda sekarang.